Jumat, 25 Januari 2013

Askep Sirosis Hepatis


1.            Definisi
Sirosis hepatis adalah penyakit yang ditandai oleh adanya peradangan tipus dan menahun pada hati, diikuti dengan ploriferasi jaringan ikat, degenerasi dan regenerasi sel-sel hati, sehingga timbul kekacauan dalam susunan perenkim hati.

2.            Etiologi
Secara marfologi sirosis dibagi atas jenis mikronodular (Partal), Makronodular (Pascanekrotik) dan jenis campuran. Sedangkan dalam klinik dikenal 3 jenis yaitu partal, pascanekrotik dan bilier. Penyakit – penyakit yang diduga dapat menjadi penyebab sirosis hepatic antara lain malnutrisi, alkoholisme, virus hepatic, kegagalan jantung yang menyebabkan bendungan vena hepatika, penyakit wislan hemokromatosis, zat toksik dan lain – lain.

3.            Patofisologi
Meskipun ada beberapa factor yang terlibat dalam etiologi sirosis, konsumsi minuman beralkohol dianggap sebagai factor penyebab yang utama, sirosis terjadi dengan frekuensi paling tinggi pada peminum minuman keras meskipun defisiensi gizi dengan penurunan asupan protein turun menimbulkan kerusakan hati pada sirosis, namun asupan alcohol yang berlebihan merupakan factor penyebab utama pada perlemakan hati dan konsekuensi yang ditimbulkannya
Factor lain dapat memainkan peran termasuk perjalanan dengan zat kimia (karbon tetraklotida, naftalen terklorinasi, dan atau fosfor) atau infeksi skistosomiasis yang menular.

4.            Manifestasi klinis
Gejala terjadi akibat perubahan morfologi dan lebih menggambarkan beratnya kerusakan yang terjadi pada etiologinya, didapatmkan gejala dan tanda sebagai berikut :
1.      Gejala-gejala gastrointestinal yang tidak khas seperti anoreksia, mual, muntah, dan diare.
2.      Demam, berat badan menurun, lekas lelah.
3.      ascites hidrothorak dan edema.
4.      Ikterus kadang-kadang urin menjadi lebih tua warnanya atau kecoklatan.
5.      Hepatomegali, bila telah lanjut hati dapat mengecil karena fibrosis.
6.      kelainan pembuluh darah seperti kolateral-kolateral didinding abdomen dan toraks kaput medusa, wasir dan parises esophagus.
7.      Kelainan endokrin yang merupakan tanda dari hiperestrogenesme yaitu :
a.       Impotensi atrofi testis, Ginekomastia hilangnya rambut dan fubis.
b.      Amenore hiperpigmentasi areola mammae.
c.       Spidernevi dan eritema.
d.      Hiperpigmentasi.

5.            Prognosis
Prognosis tergantung pada luasnya kerusakan hati / kegagalan hepatoselular, beratnya hipertensi partal dan timbulnya komplikasi lain.

6.            Komplikasi
Hematemesis melena dan koma hepatikum.

7.            Pemeriksaan Penunjang
Adanya anemia, gangguan faal hati (penurunan kadar albumen serum, peninggan kadar globulin serum, peninggian kadar bilirubin direk dan indirek)., penurunan enzim kolinesterase serta peninggian SGOT dan SGPT.
Pemeriksaan terhadap alfa feto protein sering menunjukkan peningkatan untuk melihat kelainan secara histopatologi dilakukan biopsy hati.

8.            Penatalaksanaan
1.      Istirahat ditempat tidur sampai terdapat perbaikan ikterus, ascites dan demam.
2.      Diet rendah protein (diet hati III : protein I g / kg, 55 g protein 2.00 kalori) bila ada atises diberikan diet rendah garam II (600 – 800 mg) atau III (1.000 – 2.000 mg bila prosestidak aktif diperlukan diet tinggi kalori (2.000 – 3.000 kalori) dan tinggi protein (80 – 125 g / hari).
3.      Mengatasi infeksi dengan anti biotic, diusahakan memakai obat – obatan yang jelas hepatotosin.
4.      Memperbaiki keadaan gizi, bila perlu memperbaiki asam amino esensial berantai cabang dan glukosa.
5.      Robaransia vitamin B Komplek dilarang makan dan minum bahan yang mengandung alcohol.

Ø  Penatalaksanaan ascites dan edema adalah :
1.      Istirahat dan diet rendah garam. Dengan istirahat dan diet rendah garam      (2.00 – 500 mg per hari) kadang – kadang ascites dan edema telah dapat diatasi. Adakalanya harus dibantu dengan membatasi jumlah pemasukan cairan selama 24 jam hanya sampai 1 liter atau kurang.
2.      Bila dengan istirahat dan diet tidak dapat diatasi diberikan pengobatan dan uritek berupa spironoloktan 50 -100 mg / hari (awal) dan dapat ditingkatkan sampai 30 mg / hari bila 3 – 4 hari tidak terdapat perubahan.
3.      Bila terjadi ascites refrater (ascites yang tidak dapat dikendalikan dengan terapi medika metosa yang intensif) dilakukan dengan terapi parasentesis, walaupun merupakan cara pengobatan ascites yang tergolong kuno dan sempat ditinggalkan karena berbagai komplikasinya. Parasentesis banyak dicoba untuk digunakan, padaumumnya parasentesis aman apabila disertai dengan infuse albumin sebanyak 6,8       untuk setiap liter cairan atises, selain albumin dapat juga digunakan destran 70% walaupun demikian untuk mencegah pembentukan ascites setelah parasentesis pengaturan diet rendah garam dan diuretic biasanya tetap diperlukan.
4.      Pengendalian cairan ascites diharapkan terjadi penurunan berat badan 1 kg/ 2 hari atau keseimbangan cairan negative 600 – 800 ml / hari, hati – hati bila cairan terlalu banyak dikeluarkan dalam satu saat dapat mencetuskan anselofati hepatik.


Minggu, 30 Desember 2012

Gambaran Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik oleh Perawat pada Klien Halusinasi



Krisis multi dimensi telah mengakibatkan tekanan berat pada sebagian besar masyarakat dunia umumnya dan Indonesia pada khususnya, masyarakat yang mengalami krisis ekonomi tidak saja akan mengalami gangguan fisik, terserang berbagai penyakit infeksi, tetapi juga dapat mengalami gangguan kesehatan psikiatri, yang pada akhirnya mengalami penurunan produktifitas kerja, kualitas hidup secara nasional, negara telah dan akan kehilangan generasi sehat yang akan meneruskan perjuangan dan cita-cita bangsa (Hawari 2001).
World Health Organization (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai suatu keadaan sempurna baik fisik, mental, sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Yang dimaksud keadaan sempurna mental adalah keadaan yang sempurna secara biopsikososial, dan seseorang yang sehat mental dapat menyesuaikan diri secara konstruktif dengan kenyataan, memperoleh kepuasan dalam usaha/ perjuangan hidup, lebih puas memberi daripada menerima, bebas dari kecemasan/ ketegangan, berhubungan dengan orang lain: tolong menolong dan saling memuaskan, menerima kekecewaan sebagai pelajaran, mengerahkan rasa permusuhan menjadi penyelesaian kreatif dan konstruktif, dan mempunyai rasa kasih sayang yang besar (Hadiseputro, 2002).
Data yang diperoleh Badan Kesehatan Dunia menunjukkan 10 % dari populasi penduduk dunia membutuhkan pertolongan atau pengobatan bidang kesehatan jiwa/psikiatri. Bahkan menurut Studi World (2003) dibeberapa negara 8,1% dari penyakit akibat beban globalisasi (global burden disease) disebabkan oleh masalah kesehatan jiwa (Rasmun, 2001).
Menurut Undang-undang Kesehatan RI No 23 tahun 1992, sehat didefinisikan sebagai keadaan sejahtera dari badan jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Masalah sosial ekonomi yang dihadapi akan berdampak secara khusus pada kehidupan keluarga/ masyarakat, seperti pembagian peran suami istri, pengasuhan serta pendidikan.
Berkaitan dengan kompleksnya masalah yang dihadapi, memungkinkan memberi dampak negatif terhadap kesehatan mental. Masalah kesehatan mental yang timbul dapat diakibatkan oleh kondisi fisik, sifat pembawaan atau dapat disebabkan oleh faktor lingkungan seperti kondisi keluarga, lingkungan sekolah, pola pengasuhan dan lain-lain. Salah satu gangguan yang dapat muncul akibat kondisi-kondisi tersebut adalah gangguan jiwa; Skizofrenia (Nelson S. 1996 : 185).
Hasil Survei Kesehatan Mental Rumah Tangga (SKMRT) tahun 1995 yang dilakukan oleh jaringan epidemiologi psikiatri Indonesia menemukan 185 dari 1000 penduduk menunjukkan gejala gangguan jiwa. Hal ini berarti bahwa tiap rumah tangga mempunyai satu gangguan jiwa, mulai dari yang paling ringan hingga yang paling berat tingkat ganggaun kesehatan jiwanya. Dari sekian banyak masalah kesehatan jiwa, masalah yang dirasakan cukup berat dan memiliki prevalansi cukup tinggi dibanding kesehatan jiwa lainnya adalah masalah skizofrenia (Ilmawati dan Muslim, 2004).
Pada skizofrenia terdapat gejala-gejala berupa gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif terdiri dari waham, perilaku halusinasi, kekacauan proses pikir, gaduh gelisah, waham grandia, kecurigaan dan permusuhan. Gejala negatif meliputi afek tumpul, kemiskinan laporan, penarikan emosional,  penarikan diri dari hubungan sosial secara pasif/ apatis, kesulitan dalam pemikiran abstrak, kurangnya spontanitas dan arus percakapan serta pemikiran stereotip.
Skizofrenia memerlukan penanganan dari berbagai pelayanan terutama pelayanan keperawatan. Sebagai konsep tindakan keperawatan yang telah dikembangkan oleh para ahli adapun tindakan-tindakan keperawatan tersebut adalah tindakan yang berdasarkan permasalahan bio-sosio-spiritual, tindakan keperawatan tersebut juga terkait erat adanya komunikasi terapeutik antara perawat dan pasien (Keliat BA, 2002)
Hubungan antara perawat dengan pasien lebih dari sekedar mutual partnership. Hubungan ini merupakan sebuah proses dimana perawat sebagai helper (penolong) mengintervensi kehidupan pasien dan membantu pasien untuk meningkatkan kualitas hidupnya (Potter dan Perry, 1993).
Abraham (1997) menyatakan bahwa semua interaksi melibatkan komunikasi. Stuart dan Sundeen (1995) juga menyatakan bahwa dalam menjalin hubungan terapeutik (berinteraksi) dengan pasien diperlukan komunikasi, karena komunikasi adalah hubungan itu sendiri, dimana tanpa komunikasi tersebut hubungan tidak mungkin terjadi. Komunikasi adalah sarana yang sangat efektif dalam memudahkan perawat membangun suatu interaksi dengan pasien sehingga dapat melaksanakan peran dan fungsi dengan baik (Stuart dan Sundeen:1995)
Dengan adanya komunikasi terapeutik antara perawat dan pasien halusinasi yang merupakan prinsip dasar dalam merawat pasien, dimana perawat senantiasa memberikan stimulus verbal dan non verbal yang konstruktif dalam berhubungan dengan pasien. Dalam hubungan ini perawat memakai diri sendiri dan tekhnik pendekatan yang khusus dalam bekerja dengan pasien untuk memberikan pengertian dan merubah perilaku pasien dan mambantu pasien untuk mengungkapkan permasalahan yang ada pada diri pasien dan mampu menetapkan serta menguji realias. Berkaitan dengan penerapan tahapan komunikasi terapeutik, tenaga keperawatan telah memahami dan mampu menerapkan tahap-tahap proses komunikasi terapeutik kepada klien gangguan jiwa.


selengkapnya download disini: BAB I      BAB II     BAB III     BAB IV