Sabtu, 14 Oktober 2017

Critical Thinking

Sudah lama saya tidak posting di blog ini.
Sekarang baru sempat nulis, rasanya saya tertarik untuk menuangkan pemikiran saya tentang "berpikir kritis" untuk perawat.
Berpikir kritis atau critical thinking harus ada pada setiap individu perawat. Critical thinking ini sendiri kadang disebut suatu pikiran yang diambil langsung yang berfokus untuk mencapai suatu tujuan yang diharapkan. Suatu contoh dalam ruang perawatan ada seorang pasien yang sedang mengerang kesakitan, sebagai perawat, apa yang akan kita lakukan?
Di sinilah critical thinking berperan.
Sebagai perawat untuk berfikir kritis-pun harus dibekali oleh ilmu pengetahuan dasar yang cukup untuk merawat pasien. Sama seperti saat kita akan menaiki sepeda motor, kita harus tahu dulu bagaimana cara menghidupkannya, mengendarainya, termasuk juga peraturan-peraturan yang berhubungan dengan lalu lintas. Inilah sebabnya seorang perawat harus dibekali ilmu selama dibangku kuliah untuk mempelajari anatomi dan fisiologi tubuh manusia sampai proses penyakit dan kelainan-kelainan yang dialami oleh manusia.

 Related image
 sumber gambar:verywell.com
Coba perhatikan contoh berikut ini
" Di suatu ruang perawatan pasien bedah Tn. Agus dengan post operasi laparatomy sedang mengerang kesakitan, dan keluarganya memanggil perawat. Setelah keluarga pasien menjelaskan kepada perawat, akhirnya perawat melihat daftar pemberian obat dan ada jadwal pemberian injeksi Ketorolac 1 jam kedepan. Perawatpun akhirnya datang ke ruangan Tn. Agus dan membicarakan kalau obat anti nyeri-nya akan disuntik se-jam lagi dan menyuruh pasien untuk bersabar."

Dari contoh kasus di atas, apakah perawat telah berpikir kritis untuk masalah ini. Berpikir kritis-pun harus berorientasi pada problem solving. Benar! dari contoh tersebut setelah perawat mengatakan bahwa obat anti nyeri akan di berikan setelah satu jam dan pasien disuruh bersabar, selesai masalah perawat dan dapat meninggalkan ruangan untuk melihat pasien lain, tapi bayangkan apakah masalah Tn. Agus terselesaikan? Jawabannya tidak, selama satu jam kedepan Tn. Agus tetap merasakan nyeri dan mungkin akan bertambah nyeri.

Apa yang sebenarnya harus dilakukan oleh perawat untuk menyelesaikan masalah Tn. Agus ini.
  1. Kumpulkan data dari hasil pengkajian, di mulai dari anamnesa bagaimana nyeri yang dirasakan oleh pasien, skala nyeri nya, sampai pada tanda-tanda vital pasien harus di kaji oleh perawat.
  2. Menentukan masalah, saat ini ternyata Tn. Agus sedang mengalami nyeri akut atas penyakitnya dan butuh penanganan segera.
  3. Tentukan Tujuan, Jelas bahwa tujuannya adalah Tn. Agus dapat kembali rileks dengan perasaan nyeri berkurang atau hilang dan ini tidak dapat ditunggu hingga dapat jadwal obat sejam kedepan
  4. Rencanakan Tindakan apa yang akan dilakukan, dapat dikolaborasikan dengan dokter tentang jadwal pemberian obat selanjutnya, termasuk keefektifan dan efek samping jika obat anti nyerinya diberikan sekarang. Dapat juga dilakukan intervensi pengurang nyeri dengan cara nonfarmakologi dengan cara pengalihan nyeri, distraksi, dan relaksasi.
  5. Lakukan apa yang telah direncanakan, jangan lupa untuk mencatat apa yang telah dilakukan.
  6. Evaluasi, lakukan evaluasi setelah pemberian tindakan. Kaji respon pasien, apakah masih merasakan nyeri? apakah nyerinya berkurang? berapa skala nyeri-nya sekarang?
Bayangkan lebih mulia yang mana sebagai perawat yang dapat kita lakukan dari contoh di atas. Terlihat sekali perbedaan attitude, cara berpikir dan problem solvingnya.
Kembali lagi untuk dapat berpikir kritis kita harus dibekali ilmu yang cukup untuk itu semua, jadi jangan bosan untuk terus menggali ilmu, karena pada hakikatnya mencari ilmu itu dimulai saat dari buaian sampai ke liang kubur, istilah lainnya long life education. Belajar terus, terus belajar......