Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Oktober 2017

Critical Thinking

Sudah lama saya tidak posting di blog ini.
Sekarang baru sempat nulis, rasanya saya tertarik untuk menuangkan pemikiran saya tentang "berpikir kritis" untuk perawat.
Berpikir kritis atau critical thinking harus ada pada setiap individu perawat. Critical thinking ini sendiri kadang disebut suatu pikiran yang diambil langsung yang berfokus untuk mencapai suatu tujuan yang diharapkan. Suatu contoh dalam ruang perawatan ada seorang pasien yang sedang mengerang kesakitan, sebagai perawat, apa yang akan kita lakukan?
Di sinilah critical thinking berperan.
Sebagai perawat untuk berfikir kritis-pun harus dibekali oleh ilmu pengetahuan dasar yang cukup untuk merawat pasien. Sama seperti saat kita akan menaiki sepeda motor, kita harus tahu dulu bagaimana cara menghidupkannya, mengendarainya, termasuk juga peraturan-peraturan yang berhubungan dengan lalu lintas. Inilah sebabnya seorang perawat harus dibekali ilmu selama dibangku kuliah untuk mempelajari anatomi dan fisiologi tubuh manusia sampai proses penyakit dan kelainan-kelainan yang dialami oleh manusia.

 Related image
 sumber gambar:verywell.com
Coba perhatikan contoh berikut ini
" Di suatu ruang perawatan pasien bedah Tn. Agus dengan post operasi laparatomy sedang mengerang kesakitan, dan keluarganya memanggil perawat. Setelah keluarga pasien menjelaskan kepada perawat, akhirnya perawat melihat daftar pemberian obat dan ada jadwal pemberian injeksi Ketorolac 1 jam kedepan. Perawatpun akhirnya datang ke ruangan Tn. Agus dan membicarakan kalau obat anti nyeri-nya akan disuntik se-jam lagi dan menyuruh pasien untuk bersabar."

Dari contoh kasus di atas, apakah perawat telah berpikir kritis untuk masalah ini. Berpikir kritis-pun harus berorientasi pada problem solving. Benar! dari contoh tersebut setelah perawat mengatakan bahwa obat anti nyeri akan di berikan setelah satu jam dan pasien disuruh bersabar, selesai masalah perawat dan dapat meninggalkan ruangan untuk melihat pasien lain, tapi bayangkan apakah masalah Tn. Agus terselesaikan? Jawabannya tidak, selama satu jam kedepan Tn. Agus tetap merasakan nyeri dan mungkin akan bertambah nyeri.

Apa yang sebenarnya harus dilakukan oleh perawat untuk menyelesaikan masalah Tn. Agus ini.
  1. Kumpulkan data dari hasil pengkajian, di mulai dari anamnesa bagaimana nyeri yang dirasakan oleh pasien, skala nyeri nya, sampai pada tanda-tanda vital pasien harus di kaji oleh perawat.
  2. Menentukan masalah, saat ini ternyata Tn. Agus sedang mengalami nyeri akut atas penyakitnya dan butuh penanganan segera.
  3. Tentukan Tujuan, Jelas bahwa tujuannya adalah Tn. Agus dapat kembali rileks dengan perasaan nyeri berkurang atau hilang dan ini tidak dapat ditunggu hingga dapat jadwal obat sejam kedepan
  4. Rencanakan Tindakan apa yang akan dilakukan, dapat dikolaborasikan dengan dokter tentang jadwal pemberian obat selanjutnya, termasuk keefektifan dan efek samping jika obat anti nyerinya diberikan sekarang. Dapat juga dilakukan intervensi pengurang nyeri dengan cara nonfarmakologi dengan cara pengalihan nyeri, distraksi, dan relaksasi.
  5. Lakukan apa yang telah direncanakan, jangan lupa untuk mencatat apa yang telah dilakukan.
  6. Evaluasi, lakukan evaluasi setelah pemberian tindakan. Kaji respon pasien, apakah masih merasakan nyeri? apakah nyerinya berkurang? berapa skala nyeri-nya sekarang?
Bayangkan lebih mulia yang mana sebagai perawat yang dapat kita lakukan dari contoh di atas. Terlihat sekali perbedaan attitude, cara berpikir dan problem solvingnya.
Kembali lagi untuk dapat berpikir kritis kita harus dibekali ilmu yang cukup untuk itu semua, jadi jangan bosan untuk terus menggali ilmu, karena pada hakikatnya mencari ilmu itu dimulai saat dari buaian sampai ke liang kubur, istilah lainnya long life education. Belajar terus, terus belajar......

Senin, 04 September 2017

Pentingnya Mengontrol Tekanan Darah

Hasil gambar untuk hipertensi
sumber gambar: inaheart.or.id

Jaman sekarang kata Hipertensi sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Bagaimana tidak, Hipertensi memang sudah seperti diagnosa terpopuler jika kita lihat di data kunjungan pasien pada hampir seluruh fasilitas kesehatan. Hipertensi ini erat kaitannya dengan gaya hidup. Gaya hidup yang bagaimana sih yang dapat menyebabkan hipertensi atau tekanan darah tinggi ini. Setidaknya ada tujuh hal yang dapat mencetuskan hipertensi, apa saja? ini dia:  
  1. Terlalu banyak mengkonsumsi natrium / garam
  2. Berlebihan dalam mengkonsumsi gula
  3. Obesitas (kelebihan berat badan)
  4. Mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak lemak
  5. Kebiasaan merokok
  6. Mengkonsumsi Alkohol
  7. Stress 
Hipertensi ini merupakan penyakit seumur hidup, artinya jika telah terdiagnosa Hipertensi maka harus selalu mengkontrol tekanan darah dan minum obat secara rutin. Jangan hanya nantinya tekanan darah kita sudah normal terus berhenti minum obat hipertensi, tekanan darah bisa naik lagi dan kalau tidak terkontrol kemungkinan terburuknya bisa terkena serangan jantung maupun stroke.

Ada tips yang penulis kutip dari medscape.com untuk dapat menencegah tekanan darah tinggi, diantaranya adalah sebagai berikut:
  • Perbanyak latihan fisik seperti aerobik untuk menjaga berat badan ideal dan terhindar dari obesitas
  • Diet rendah garam, lemak dan kolesterol
  • Jangan minum alkohol dan berhenti merokok
  • Selalu rutin untuk mengontrol tekanan darah
Mengukur tekanan darah dapat dilakukan di fasilitas kesehatan maupun secara mandiri dengan alat pengukur darah atau tensimeter. Sekarang ini banyak Tensimeter yang gampang digunakan apalagi untuk orang awam. Tensimeter Digital contohnya, tinggal pencet saja tunggu beberapa saat sudah muncul tekanan darah kita.

Berapa sih nilai normar tekanan darah?
Idealnya tekanan darah normal itu antara 100-120/60-80 mmHg. Dikatakan Hipertensi jika tekanan darah di atas 140/90 mmHg. Dan diantara rentang itu adalah Prehipertensi.

Jumat, 06 Desember 2013

Jangan Terlambat, Cegah Stroke dengan Cara Seperti Ini

Ketika serangan stroke kadung terjadi, tampaknya tak ada yang bisa dilakukan selain pasrah dan banyak berdoa. Kadang meski dokter sudah mengerahkan berbagai cara, stroke juga tak kunjung reda. Untuk itu, pakar menyarankan agar setiap orang melakukan upaya pencegahan.

Apalagi mengingat stroke bisa terjadi pada siapapun, tanpa terkecuali maka pencegahan tak hanya berlaku untuk masa sebelum terjadinya serangan pertama tapi juga upaya pencegahan agar stroke yang dialami pasien tak mengalami kekambuhan.

"Perlu diketahui jika makin banyak faktor risikonya (yang dimiliki pasien), peluang strokenya kambuh juga makin besar," tutur Heny Suseani Pangastuti, S.Kp., M.Kes., dalam acara Bedah Buku 'Odem Otak pada Pasien Stroke Iskemik Akut' dan Workshop Pertolongan Serangan Stroke bagi Awam di Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta, seperti ditulis pada Jumat (6/12/2013).

Heny pun memaparkan bahwa faktor risiko stroke terdiri atas dua macam; yang dapat dikendalikan dan yang tidak bisa diubah atau dikendalikan. Yang dapat dikendalikan antara lain penyakit jantung, hipertensi, diabetes, kebiasaan merokok, anemia, dll.

"Sedangkan untuk faktor risiko yang tidak bisa diubah yaitu usia, gender, hereditas atau keturunan, ras atau etnis dan kondisi geografis, kita nggak bisa berbuat apa-apa ya," imbuhnya.

Lalu bagaimana mencegah terjadinya stroke berulang? Menurut dosen ilmu keperawatan UGM tersebut, bisa dilakukan dengan konsumsi sejumlah obat resep seperti aspirin dan agen penurun lipid atau lemak, dan yang utama perubahan gaya hidup atau modifikasi faktor risiko.

Heny mengacu pada ketentuan WHO tentang perubahan gaya hidup pasien stroke (2001) berupa berhenti merokok, praktik diet sehat, pengendalian berat badan, serta aktivitas yang teratur. Untuk aktivitas fisik, Heny menegaskan apabila standar olahraga untuk mencegah stroke menurut WHO sendiri adalah lima kali seminggu, masing-masing selama 30 menit.

"Tapi sebenarnya yang paling penting adalah mencegah tidak terjadinya stroke yang pertama kali. Ini dengan memberikan edukasi kepada pasien yang punya faktor risiko tadi," tutur Heny.

sumber: detikhealth

Pertolongan Pertama pada Mimisan

Hidung berdarah atau mimisan dapat disebabkan oleh beberapa hal, misalnya pukulan yang mengenai hidung, iritasi pada membran mukosa hidung karena berusaha mengeluarkan sesuatu secara berulang dari rongga hidung, atau karena infeksi.

Menurut Stanley M. Zildo seperti dikutip dari bukunya yang berjudul 'First Aid, Cara Benar Pertolongan Pertama dan Penanganan Darurat', Kebanyakan perdarahan hidung yang terjadi pada anak-anak tidak berbahaya. Namun bila terjadi pada orang tua atau dewasa, hal ini dapat menjadi masalah serius dan membutuhkan penanganan medis.

Apabila menemui hidung berdarah atau mimisan, lakukanlah hal-hal sebagai berikut:

1. Mintalah korban untuk duduk dengan badan condong ke depan. Jaga mulut supaya tetap terbuka supaya darah tidak menutup jalan napas.

2. Pencet hidung selama 15 menit. Tekan di bawah tulang hidung pada bagian ujungnya, lepaskan perlahan.

3. Jangan biarkan korban melesitkan ingus. Apabila perdarahan terus berlangsung, pencet hidungnya lagi selama 5 menit dan pastikan korban tidak menelan darah yang keluar.

4. Ambil kain basah atau es yang dibungkus dengan kain. Tempelkan pada hidung dan muka korban untuk mempersempit pembuluh darah.

5. Bila perdarahan berlanjut dan ada indikasi patah tulang, segera bawa ke unit penanganan gawat darurat.

sumber: detikhealth

Senin, 04 Maret 2013

ARV sebagai Pencegahan HIV Mulai Diuji Coba



Pemberian obat antiretroviral (ARV) sebagai upaya pencegahan penularan HIV akan segera diuji coba di Indonesia. Sebagai permulaan, uji coba dilakukan di tiga kota, yakni Jakarta, Denpasar, dan Badung, Bali.

Terapi ARV sebagai upaya pencegahan secara global sudah banyak dilakukan dan menunjukkan hasil yang signifikan dalam menurunkan risiko penularan HIV. ARV sedianya adalah obat yang diberikan kepada mereka yang positif HIV untuk menekan jumlah virus.

Menurut dr Fonny J Silfanus, Deputi Program Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, terapi ARV sebagai pengobatan sekaligus pencegahan diberikan kepada mereka yang sudah terinfeksi HIV, tetapi jumlah CD4-nya kurang dari 500.

"Terapi ini harus diberikan kepada orang yang tepat karena jika tidak patuh minum obat justru akan resisten," katanya dalam acara media edukasi mengenai Program Pencegahan HIV Melalui Transmisi Seksual di Jakarta, Kamis (28/2/13).

Fonny menjelaskan, program pengobatan dan pencegahan tersebut diprioritaskan kepada pekerja seks, pengguna narkoba jarum suntik, waria, atau ODHA yang punya pasangan.

"Rencananya mulai tahun ini, tetapi belum tahu jumlahnya berapa orang," paparnya.

Ia menambahkan, selain pemberian ARV, upaya pencegahan lainnya tetap dilanjutkan. "Penggunaan kondom tetap harus dilakukan," katanya.

sumber: kompas

Jumat, 25 Januari 2013

Antibiotik tidak Menyembuhkan Batuk pada Anak



Masih banyak orangtua yang memberikan antibiotik untuk mengobati penyakit batuk dan pilek anaknya. Padahal, antibiotik tidak menyembuhkan batuk tapi malah memperlambat proses kesembuhan.

Flu dan batuk disebabkan oleh virus dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Dalam penelitian di Italia terbukti bahwa anak-anak yang sakit batuk dan tidak diberi antibiotik justru sembuh lebih cepat dibanding anak yang mendapat antibiotik.

Penelitian tersebut dilakukan terhadap 305 anak yang sakit batuk. Hasil penelitian itu dipresentasikan dalam American College of Chest Physicians.

Ketua peneliti, Fracesco de Blasio dari Universitas Bologna, mengatakan para dokter sering meresepkan antibiotik untuk batuk supaya orangtua anak tenang.

"Padahal efektivitas antibiotik sangat kecil untuk mengobati batuk karena influenza. Bahkan antibiotik kurang efektif dibanding anak yang tidak diberi antibiotik," katanya.

Ia menjelaskan bahwa antibiotik baru diresepkan bila terjadi infeksi bakteri sekunder seperti pneumonia atau radang baru. Meski begitu penggunannya juga harus terkontrol.

Penggunaan antibiotik untuk mengobati batuk tanpa indikasi infeksi sangat tidak tepat dan bisa berbahaya. Pemakaian berulang antibiotik, apalagi bila sudah diketahui tidak efektif, bukan hanya bisa memicu reaksi alergi tapi juga anak jadi kebal obat.

sumber: Kompas

Selasa, 25 Desember 2012

Teh dan Madu Bakalan Menggantikan Antibiotik




Fenomena resistensi kuman terhadap antibiotik yang kian mengkhawatirkan kembali disuarakan para pakar kesehatan. Resep pengobatan tradisional seperti teh dan madu dipersiapkan sebagai salah satu solusi alternatif dalam mengatasi kuman yang semakin kebal terhadap obat-obatan.

Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dan berulang-ulang merupakan penyebab terbesar suatu jenis bakteri menjadi resisten terhadap obat. Pakar kedokteran menyebut fenomena yang mengkhawatirkan ini dengan istilah “arms race”.

Ketidakmampuan suatu obat antiobiotik mengatasi bakteri kini menjadi momok setelah ditemukannya antibiotik pada tahun 1940-an. Kehadiran antibiotik sempat menjadi solusi yang efektif dalam mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Namun ketika bakteri sudah menjadi resisten terhadapnya, dibutuhkan alternatif lain yang dapat membuat pengobatan menjadi kembali efektif.

Prof. Les Baillie, dari Cardiff University Inggris menyatakan, bukan mustahil dunia akan kembali ke suatu masa dimana belum ditemukan antibiotik, sehingga pengobatan sejenis penyakit menjadi permasalahan besar.

Oleh karenanya, para ilmuwan kini sedang mengupayakan membuat suatu sulosi alternatif ketika bakteri sudah menjadi resisten terhadap antibiotik. Baillie saat ini mengetuai tim riset untuk mencari tahu apakah obat kuno seperti teh dan madu dapat menjadi cara berikutnya sebagai obat yang paling efektif mengobati penyakit.

Teh diketahui mengandung suatu senyawa yang dinamakan polifenol yang memiliki kemampuan membunuh mikroorganisme.

Tim peneliti yang dipimpin Baillie telah menemukan, teh mampu untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh Clostridium difficile, bakteri yang bertanggung jawab untuk setidaknya 2.000 orang tewas dan lebih dari 24.000 kasus infeksi tahun lalu.

Rhidian Morgan-Jones, seorang ahli bedah dari Cardiff, mengatakan bahwa ada kekhawatiran nyata tentang masa depan dunia kedokteran saat antibiotik tidak lagi dapat digunakan.

Prof. David Livermore, dari Badan Perlindungan Kesehatan Inggris, bulan lalu memberi peringatan, operasi besar dan penanganan kanker akan menjadi lebih berbahaya lagi. Penggunaan antibiotik kemungkinan hanya akan bisa dilakukan untuk 10 tahun ke depan.

Perkembangan dunia kedokteran modern seperti perawatan intensif dan transplantasi organ akan berada di bawah ancaman tanpa antiobiotik. Oleh karenanya, segera dibutuhkan pengganti antibiotik.


Sumber : Kompas

Sabtu, 01 September 2012

Sakit bukan Berarti Berhenti Beribadah



“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia maha perkasa lagi maha pengampun (QS Al-Mulk 67:2)”

Allah telah menetapkan sebuah kaidah dalam firman-Nya, bahwasanya Dia yang maha kuasa telah menjadikan hidup dengan segala permasalahannya dan mati beserta hal-hal yang terkait di dalamnya. Keduanya merupakan ujian bagi hamba-hamba-Nya. Dari ujian itu diketahui siapa yang saja hambanya yang pandai bersyukur ketika lapang dan siapa yang sabar ketika berada dalam kesempitan. Manusia yang pandai bersyukur ketika lapang dan bersabar ketika sempit, baginya pahala yang luar biasa dari sisi-Nya. Nabi Ayub as. adalah salah seorang contoh yang terbaik dari hamba-hamba Allah yang menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong dalam hidupnya. Ketika berada dalam kelapangan, beliau bersyukur. Ketika berada dalam kesempitan hidup, beliaupun mampu bersabar. Bahkan, kesabaran yang ditampilkan Nabi Ayub as. menjadi symbol kesabaran paripurna dalam menghadapi kepahitan hidup.

Nabi Ayub adalah hamba yang saleh. Allah swt. menguji Ayub dengan harta, keluarga dan tubuhnya. Hartanya hilang sehingga beliau menjadi orang yang sangat miskin setelah sebelumnya kaya raya. Kemudian Nabi Ayub ditinggal pergi oleh istri dan anak-anak yang dicintainya. Setelah itu fisiknya dihinggapi oleh penyakit aneh yang menjijikkan yang tidak kunjung sembuh dalam kurun waktu yang lama sehingga orang-orang menjauhinya. Walaupun demikian, beliau tetap bersabar menghadapi semua itu. Ia tetap bersyukur dan beribadah kepada Allah swt.

Sakit yang diderita Ayub menghabiskan waktu yang sangat lama, hingga suatu saat setan menggodanya.
”Wahai Ayub, penyakit dan penderitaan yang engkau rasakan ini adalah karena permintaanku kepada Allah untuk menggodamu. Seandainya engkau berhenti bersabar dalam satu hari saja, niscaya penyakitmu akan hilang. Sesungguhnya Allah tidak benar-benar mencintaimu. Kalau Allah benar-benar mencintaimu, niscaya engkau tidak akan merasakan penderitaan yang hebat seperti ini.”

Dengan tersenyum Ayub berkata kepada setan, “Keluarlah hai setan, sungguh aku tidak akan berhenti besabar, bersyukur dan beribadah.” Setan pun pergi dengan putus asa karena tidak mampu menggoda Nabi Ayub.

Nabi Ayub tidak percaya bahwa penderitaan yang dihadapinya ini adalah karena setan. Beliau menganggap semua yang dihadapinya ini adalah karena izin Allah untuk mengujinya. Untuk itu, Nabi Ayub mengadu dan berdo’a kepada Alah. Hingga dating suatu hari Allah memerintahkan Ayub untuk mandi di salah satu mata air di gunung dan minum dari mata ir tersebut. Nabi Ayub melaksanakan perintah itu dan hingga pada tegukkan yang terakhir beliau merasakan sehat dan sembuh dari penyakitnya. Allah pun mengembalikan keluarga, harta dan kemuliaan kepadanya.

Meneladani kisah Nabi Ayub di atas kita belajar untuk merenungi hidup yang kita jalani saat ini, sudahkan kita bersyukur saat kemudahan dating dan sudahkan kita bersabar saat kesusahan melanda hidup kita. Orang beriman tidak akan pernah lepas dari yang namanya ujian hidup. Baik dari hal-hal yang menyenangkan maupun yang menyenangkan. Dalam Al-Qur’an disebutkan.
Apakah manusia mengira mereka dibiarkan saja mengatakan ‘kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-Ankabut 29:2)

Begitu banyak ujian yang diberikan Allah kepada hamba-Nya, sebut saja sakit salah satunya. Sakit adalah sunnatullah. Jika manusia tidak memahaminya sakit merupakan penderitaan yang besar. Manusia harus menerima sakit ini sebagai sesuatu yang wajar dan kita harus iklas menerimanya. Meskipun begitu kita tidak boleh sepenuhnya pasrah menerimanya tanpa ada usaha, karena Islam tidak menginginkan seorang sakit tanpa usaha dalam penyembuhannya. Nabi Muhammad saw., bersabda, “setiap penyakit itu pasti ada obatnya.

Selama kita terbaring sakit, kita tidak boleh berhenti beribadah. Karena Islam telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara beribadah saat kita sakit.
Berikut adalah cara beribadahnya orang sakit.

1.      Bersuci
  1. Istinja’
Istinja artinya mensucikan diri dari kotoran baik yang keluar dari dubur maupun dari qubul (kemaluan). Cara istinja yaitu dengan menggunakan air yang suci atau dengan benda padat,contoh dapat menggunakan kertas tisue yang kering.Kalau menggunakan tisue dengan catatan:
·         Kotoran tidak kemana-mana hanya terdapat pada tempat keluarnya saja(dubur dan qubul).
·         Kotoran tersebut belum kering hingga bisa dihisap dengan kertas tisue.

  1. Berwudlu
Berwudhu artinya menghilangkan hadats kecil.Hadats kecil yaitu hal-hal yang dapat membatalkan wudhu seperti keluarnya sesuatu dari dubur maupun qubul.

Cara berwudhu sebagai berikut:
·         Bagi pasien yang masih mampu berwudhu sendiri seperti biasa,lakukanlah sendiri dengan tertib.
·         Bagi pasien yang sakitnya sudah berat dan tidak dapat turun sendiri dari tempat tidurnya,mintalah diwudhukan baik oleh keluarganya atau petugas rumah sakit dengan menggunakan waslap yang dibasahi kemudian diusapkan pada anggota wudhu secara merata,kecuali kumur-kumur tetap harus berkumur-kumur,dan setiap membasuh anggota wudhu waslap harus selalu dibasahi kembali,demikian seterusnya.Dan daerah-daerah yg luka dalam keadaan terbalut,tidak perlu dibuka pembalutnya.cukup dilap saja.

  1. Tayamum
Tayamum adalah merupakan pengganti wudhu/mandi wajib.Tayamum dilakukan bila keadaan pasien tidak memungkinkan untuk berwudhu.

Cara bertayamum sebagai berikut:
1.Niat melaksanakan Tayamum didalam hati.
2.Menepuk ketempat yang berdebu(suci) dengan kedua tangan.
3.Mengusap seluruh wajah termasuk janggut.
4.Mengusap dua tangan sampai ke pergelangan tangan.


2.      Shalat
  1. Untuk shalat fardhu, seorang yang sakit tetap diwajibkan untuk berdiri, selama mampu, meskipun harus dengan bersandar pada tembok atau bertumpu dengan tongkat
  2. Apabila tidak lagi mampu untuk berdiri, maka diperbolehkan untuk shalat dengan duduk, dengan tetap wajib untuk ruku’ dengan cara menunduk dan sujud diatas tanah sebagaimana biasa jika mampu. Dan apabila tidak mampu untuk sujud, maka sujudnya dilakukan dengan cara menunduk ( dengan posisi lebih rendah dari ruku’nya )
  3. Apabila tidak mampu untuk duduk, maka diperbolehkan untuk shalat dengan tidur miring diatas sisi kanan dengan menghadap kiblat.
  4. Apabila tidak bisa tidur dengan posisi miring, maka shalatnya dengan tidur terlentang, dengan kakinya diarah kiblat, dengan posisi kepalanya lebih diatas ( diberi bantal ), sehingga tetap bisa menghadap kearah kiblat
  5. Apabila tidak mampu ruku’ dan sujud dengan cara menunduk, maka diperbolehkan untuk ruku’ dan sujud dengan cara memberi isyarat dengan kepalanya, apabila juga tidak mampu , maka bisa ruku’ dan sujud dengan isyarat sesuai dengan kemampuan
  6. Orang yang sakit, tetap berkewajiban untuk shalat tepat pada waktunya, dan apabila ada kesulitan karena sakitnya, maka diperbolehkan untuk menjama’ antar dhuhur dengan ahsar, dan antara magrib dengan ‘isyak dengan jama’ taqdim atau ta’khir. Adapun untuk shalat shubuhnya tetap wajib untuk dilaksanakan diwaktunya
Catatan :
  • Apabila seseorang, baik karena sakit atau lainnya tertidur atau terlupa, sehingga tidak mengerjakan shalat diwaktunya, maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat ketika ia terbangun atau ketika ia ingat, meskipun ( bangunnya atau ingatnya ) pada waktu yang dilarang untuk shalat didalamnya
  • Tidak diperkenankan bagi seorang muslim untuk meninggalkan shalat dalam keadaan bagaimanapun ( selama masih sadar ), termasuk ketika ia sakit, bahkan semestinya seorang yang sedang sakit lebih harus bisa menjaga shalatnya dari pada saat sehatnya
  • Seseorang yang hilang kesadarannya, karena sakir atau karena pengaruh obat bius atau karena yang lainnya, sehingga meninggalkan beberapa shalat, maka ia wajib untuk mengganti shalat-shalatnya dalam satu waktu, yaitu ketika ia sadar
  • Apabila seseorang meninggalkan shalat karena kehilangan akalnya hingga wafat, meskipun badannya terlihat sehat, maka ia tidak berdosa dan tidak wajib bagi ahli warisnya untuk menggantikan shalatnya
Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi kita, sebagai usaha kita untuk terus mendekatkan diri kepada Allah dengan terus beribadah kepadanya. Kita harus selalu mengingat hakikat kita diciptakan dan hidup di dunia ini, yaitu untuk beribadah kepada-Nya.
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. [51:56]