Senin, 03 September 2012

Askep Gastritis









Pengertian Gastritis

Gastritis adalah peradangan pada mukosa lambung yang dapat bersifat akut kronik, difus atau lokal (Soepaman, 1998).
Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung (Arif Mansjoer, 1999).
Gastritis adalah radang mukosa lambung (Sjamsuhidajat, R, 1998).
Gastritis merupakan suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus atau lokal (Patofisiologi, Sylvia A Price hal 422)
Berdasarkan pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa Gastritis merupakan inflamasi mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronik, difus atau lokal.

Epidemiologi / Insiden Kasus Gastritis

Gastritis merupakan salah satu penyakit yang paling banyak dijumpai diklinik Penyakit Dalam ( IPD jilid II Edisi 3).
Gastritis akut merupakan penyakit yang sering ditemukan biasanya jinak dan dapat sembuh sendiri (Patofisiologi Sylvia & Wilson) dan ± 80 – 90% yang dirawat di ICU menderita gastritis akut.

Etiologi Gastritis

Penyebab dari Gastritis dapat dibedakan sesuai dengan klasifikasinya sebagai berikut :
  • Gastritis Akut
Penyebabnya adalah obat analgetik, anti inflamasi terutama aspirin (aspirin yang dosis rendah sudah dapat menyebabkan erosi mukosa lambung).
Bahan kimia misal : lisol, alkohol, merokok, kafein lada, steroid dan digitalis.
  • Gastritis Kronik
Penyebab dan patogenesis pada umumnya belum diketahui.
Gastritis ini merupakan kejadian biasa pada orang tua, tapi di duga pada peminum alkohol, dan merokok.

Manifestasi Klinik Gastritis

1.  Gastritis Akut
yaitu Anorexia, mual, muntah, nyeri epigastrium, perdarahan saluran cerna pada hematemesis melena, tanda lebih lanjut yaitu anemia.
2.   Gastritis Kronik
Kebanyakan klien tidak mempunyai keluhan, hanya sebagian kecil mengeluh nyeri ulu hati, anorexia, nausea, dan keluhan anemia dan pemeriksaan fisik tidak di jumpai kelainan.

Patofisiologi  Gastritis

•    Gastritis Akut
Zat iritasi yang masuk ke dalam lambung akan mengiitasi mukosa lambung.
Jika mukosa lambung teriritasi ada 2 hal yang akan terjadi :
1.   Karena terjadi iritasi mukosa lambung sebagai kompensasi lambung. Lambung akan meningkat sekresi mukosa yang berupa HCO3, di lambung HCO3 akan berikatan dengan NaCl sehingga menghasilkan HCI dan NaCO3.
Hasil dari penyawaan tersebut akan meningkatkan asam lambung. Jika asam lambung meningkat maka akan meningkatkan mual muntah, maka akan terjadi gangguan nutrisi cairan & elektrolit.
2.   Iritasi mukosa lambung akan menyebabkan mukosa inflamasi, jika mukus yang dihasilkan dapat melindungi mukosa lambung dari kerusakan HCL maka akan terjadi hemostatis dan akhirnya akan terjadi penyembuhan tetapi jika mukus gagal melindungi mukosa lambung maka akan terjadi erosi pada mukosa lambung. Jika erosi ini terjadi dan sampai pada lapisan pembuluh darah maka akan terjadi perdarahan yang akan menyebabkan nyeri dan hypovolemik.
•    Gastritis Kronik
Gastritis kronik disebabkan oleh gastritis akut yang berulang sehingga terjadi iritasi mukosa lambung yang berulang-ulang dan terjadi penyembuhan yang tidak sempurna akibatnya akan terjadi atrhopi kelenjar epitel dan hilangnya sel pariental dan sel chief. Karena sel pariental dan sel chief hilang maka produksi HCL. Pepsin dan fungsi intinsik lainnya akan menurun dan dinding lambung juga menjadi tipis serta mukosanya rata, Gastritis itu bisa sembuh dan juga bisa terjadi perdarahan serta formasi ulser.

Komplikasi Gastritis

1.   Komplikasi yang timbul pada Gastritis Akut, yaitu perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) berupa hemotemesis dan melena, berakhir dengan syock hemoragik, terjadi ulkus, kalau prosesnya hebat dan jarang terjadi perforasi.
2.   Komplikasi yang timbul Gastritis Kronik, yaitu gangguan penyerapan vitamin B 12, akibat kurang pencerapan, B 12 menyebabkan anemia pernesiosa, penyerapan besi terganggu dan penyempitan daerah antrum pylorus.

Penatalaksaan Medik Gastritis

1.   Gastritis Akut
Pemberian obat-obatan H2 blocking (Antagonis reseptor H2). Inhibitor pompa proton, ankikolinergik dan antasid (Obat-obatan ulkus lambung yang lain). Fungsi obat tersebut untuk mengatur sekresi asam lambung.
2.  Gastritis Kronik
Pemberian obat-obatan atau pengobatan empiris berupa antasid, antagonis H2 atau inhibitor pompa proton.


Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gastritis
(Askep Gastritis)

Pengkajian Keperawatan pada Askep Gastritis

1.   Faktor predisposisi dan presipitasi
Faktor predisposisi adalah bahan-bahan kimia, merokok, kafein, steroid, obat analgetik, anti inflamasi, cuka atau lada.
Faktor presipitasinya adalah kebiasaan mengkonsumsi alcohol dan rokok, penggunaan obat-obatan, pola makan dan diet yang tidak teratur, serta gaya hidup seperti kurang istirahat.
2.  Test dignostik
  • Endoskopi : akan tampak erosi multi yang sebagian biasanya berdarah dan letaknya tersebar.
  • Pemeriksaan Hispatologi : akan tampak kerusakan mukosa karena erosi tidak pernah melewati mukosa muskularis.
  • Pemeriksaan radiology.
  • Pemeriksaan laboratorium.
  • Analisa gaster : untuk mengetahui tingkat sekresi HCL, sekresi HCL menurun pada klien dengan gastritis kronik.
  • Kadar serum vitamin B12 : Nilai normalnya 200-1000 Pg/ml, kadar vitamin B12 yang rendah merupakan anemia megalostatik.
  • Kadar hemagiobi, hematokrit, trombosit, leukosit dan albumin.
  • Gastroscopy.
Untuk mengetahui permukaan mukosa (perubahan) mengidentifikasi area perdarahan dan mengambil jaringan untuk biopsi.

Diagnosa Keperawatan pada Askep Gastritis

1. Resti gangguan keseimbangan volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, muntah.
2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, anorexia.
3.  Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inflamasi mukosa lambung.
4.  Keterbatasan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
5.  Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi.

Intervensi Keperawatan pada Askep Gastritis
Diagnosa Keperawatan 1. : Resti gangguan keseimbangan volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, muntah.
Tujuan :
Resti gangguan keseimbangan cairan tidak terjadi.
Kriteria Hasil :
Membran mukosa lembab, turgor kulit baik, elektrolit kembali normal, pengisian kapiler berwarna merah muda, tanda vital stabil, input dan output seimbang.
Intervensi :
Kaji tanda dan gejala dehidrasi, observasi TTV, ukur intake dan out anjurkan klien untuk minum ± 1500-2500ml, observasi kulit dan membran mukosa, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan infus.

Diagnosa Keperawatan 2. : Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, anorexia.
Tujuan
Gangguan nutrisi teratasi.
Kriteria Hasil :
Berat badan stabil, nilai laboratorium Albumin normal, tidak mual dan muntah BB dalam batas normal, bising usus normal.
Intervensi :
Kaji intake makanan, timbang BB secara teratur, berikan perawatan oral secara teratur, anjurkan klien makan sedikit tapi sering, berikan makanan dalam keadaan hangat, auskultasi bising usus, kaji makanan yang disukai, awasi pemeriksaan laboratorium misalnya : Hb, Ht, Albumin.

Diagnosa Keperawatan 3. : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inflamasi mukosa lambung.
Tujuan :
Nyeri dapat berkurang/hilang.
Kriteria Hasil :
Nyeri hilang/terkontrol, tampak rileks dan mampu tidur/istirahat, skala nyeri menunjukkan angka 0.
Intervensi :
Kaji skala nyeri dan lokasi nyeri, observasi TTV, berikan lingkungan yang tenang dan nyaman, anjurkan tekhnik relaksasi dengan nafas dalam, lakukan kolaborasi dalam pemberian obat sesuai dengan indikasi untuk mengurangi nyeri.

Diagnosa Keperawatan 4. : Keterbatasan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Tujuan :
Keterbatasan aktifitas teratasi.
Kriteria Hasil :
K/u baik, klien tidak dibantu oleh keluarga dalam beraktifitas.
Intervensi :
Tingkatkan tirah baring atau duduk, berikan lingkungan yang tenang dan nyaman, batasi pengunjung, dorong penggunaan tekhnik relaksasi, kaji nyeri tekan pada gaster, berikan obat sesuai dengan indikasi.

Diagnosa Keperawatan 5. : Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan :
Kurang pengetahuan teratasi.
Kriteria Hasil :
Klien dapat menyebutkan pengertian, penyebab, tanda dan gejala, perawatan, pencegahan dan pengobatan.
Intervensi :
Kaji tingkat pengetahuan klien, beri pendidikan kesehatan (penyuluhan) tentang penyakit, beri kesempatan klien atau keluarga untuk bertanya, beritahu tentang pentingnya obat-obatan untuk kesembuhan klien.

Evaluasi Keperawatan pada Askep Gastritis

Evaluasi pada klien dengan Gastrtitis, yaitu :
1.  Keseimbangan cairan dan elektrolit teratasi
2.  Kebutuhan nutrisi teratasi
3.  Gangguan rasa nyeri berkurang
4.  Klien dapat melakukan aktifitas
5.  Pengetahuan klien bertambah.


Daftar Pustaka
 
Doengoes M.E. (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3 . EGC. Jakarta.
Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2002.
Wilkinson, Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC, 2007

Sabtu, 01 September 2012

Sakit bukan Berarti Berhenti Beribadah



“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia maha perkasa lagi maha pengampun (QS Al-Mulk 67:2)”

Allah telah menetapkan sebuah kaidah dalam firman-Nya, bahwasanya Dia yang maha kuasa telah menjadikan hidup dengan segala permasalahannya dan mati beserta hal-hal yang terkait di dalamnya. Keduanya merupakan ujian bagi hamba-hamba-Nya. Dari ujian itu diketahui siapa yang saja hambanya yang pandai bersyukur ketika lapang dan siapa yang sabar ketika berada dalam kesempitan. Manusia yang pandai bersyukur ketika lapang dan bersabar ketika sempit, baginya pahala yang luar biasa dari sisi-Nya. Nabi Ayub as. adalah salah seorang contoh yang terbaik dari hamba-hamba Allah yang menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong dalam hidupnya. Ketika berada dalam kelapangan, beliau bersyukur. Ketika berada dalam kesempitan hidup, beliaupun mampu bersabar. Bahkan, kesabaran yang ditampilkan Nabi Ayub as. menjadi symbol kesabaran paripurna dalam menghadapi kepahitan hidup.

Nabi Ayub adalah hamba yang saleh. Allah swt. menguji Ayub dengan harta, keluarga dan tubuhnya. Hartanya hilang sehingga beliau menjadi orang yang sangat miskin setelah sebelumnya kaya raya. Kemudian Nabi Ayub ditinggal pergi oleh istri dan anak-anak yang dicintainya. Setelah itu fisiknya dihinggapi oleh penyakit aneh yang menjijikkan yang tidak kunjung sembuh dalam kurun waktu yang lama sehingga orang-orang menjauhinya. Walaupun demikian, beliau tetap bersabar menghadapi semua itu. Ia tetap bersyukur dan beribadah kepada Allah swt.

Sakit yang diderita Ayub menghabiskan waktu yang sangat lama, hingga suatu saat setan menggodanya.
”Wahai Ayub, penyakit dan penderitaan yang engkau rasakan ini adalah karena permintaanku kepada Allah untuk menggodamu. Seandainya engkau berhenti bersabar dalam satu hari saja, niscaya penyakitmu akan hilang. Sesungguhnya Allah tidak benar-benar mencintaimu. Kalau Allah benar-benar mencintaimu, niscaya engkau tidak akan merasakan penderitaan yang hebat seperti ini.”

Dengan tersenyum Ayub berkata kepada setan, “Keluarlah hai setan, sungguh aku tidak akan berhenti besabar, bersyukur dan beribadah.” Setan pun pergi dengan putus asa karena tidak mampu menggoda Nabi Ayub.

Nabi Ayub tidak percaya bahwa penderitaan yang dihadapinya ini adalah karena setan. Beliau menganggap semua yang dihadapinya ini adalah karena izin Allah untuk mengujinya. Untuk itu, Nabi Ayub mengadu dan berdo’a kepada Alah. Hingga dating suatu hari Allah memerintahkan Ayub untuk mandi di salah satu mata air di gunung dan minum dari mata ir tersebut. Nabi Ayub melaksanakan perintah itu dan hingga pada tegukkan yang terakhir beliau merasakan sehat dan sembuh dari penyakitnya. Allah pun mengembalikan keluarga, harta dan kemuliaan kepadanya.

Meneladani kisah Nabi Ayub di atas kita belajar untuk merenungi hidup yang kita jalani saat ini, sudahkan kita bersyukur saat kemudahan dating dan sudahkan kita bersabar saat kesusahan melanda hidup kita. Orang beriman tidak akan pernah lepas dari yang namanya ujian hidup. Baik dari hal-hal yang menyenangkan maupun yang menyenangkan. Dalam Al-Qur’an disebutkan.
Apakah manusia mengira mereka dibiarkan saja mengatakan ‘kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-Ankabut 29:2)

Begitu banyak ujian yang diberikan Allah kepada hamba-Nya, sebut saja sakit salah satunya. Sakit adalah sunnatullah. Jika manusia tidak memahaminya sakit merupakan penderitaan yang besar. Manusia harus menerima sakit ini sebagai sesuatu yang wajar dan kita harus iklas menerimanya. Meskipun begitu kita tidak boleh sepenuhnya pasrah menerimanya tanpa ada usaha, karena Islam tidak menginginkan seorang sakit tanpa usaha dalam penyembuhannya. Nabi Muhammad saw., bersabda, “setiap penyakit itu pasti ada obatnya.

Selama kita terbaring sakit, kita tidak boleh berhenti beribadah. Karena Islam telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara beribadah saat kita sakit.
Berikut adalah cara beribadahnya orang sakit.

1.      Bersuci
  1. Istinja’
Istinja artinya mensucikan diri dari kotoran baik yang keluar dari dubur maupun dari qubul (kemaluan). Cara istinja yaitu dengan menggunakan air yang suci atau dengan benda padat,contoh dapat menggunakan kertas tisue yang kering.Kalau menggunakan tisue dengan catatan:
·         Kotoran tidak kemana-mana hanya terdapat pada tempat keluarnya saja(dubur dan qubul).
·         Kotoran tersebut belum kering hingga bisa dihisap dengan kertas tisue.

  1. Berwudlu
Berwudhu artinya menghilangkan hadats kecil.Hadats kecil yaitu hal-hal yang dapat membatalkan wudhu seperti keluarnya sesuatu dari dubur maupun qubul.

Cara berwudhu sebagai berikut:
·         Bagi pasien yang masih mampu berwudhu sendiri seperti biasa,lakukanlah sendiri dengan tertib.
·         Bagi pasien yang sakitnya sudah berat dan tidak dapat turun sendiri dari tempat tidurnya,mintalah diwudhukan baik oleh keluarganya atau petugas rumah sakit dengan menggunakan waslap yang dibasahi kemudian diusapkan pada anggota wudhu secara merata,kecuali kumur-kumur tetap harus berkumur-kumur,dan setiap membasuh anggota wudhu waslap harus selalu dibasahi kembali,demikian seterusnya.Dan daerah-daerah yg luka dalam keadaan terbalut,tidak perlu dibuka pembalutnya.cukup dilap saja.

  1. Tayamum
Tayamum adalah merupakan pengganti wudhu/mandi wajib.Tayamum dilakukan bila keadaan pasien tidak memungkinkan untuk berwudhu.

Cara bertayamum sebagai berikut:
1.Niat melaksanakan Tayamum didalam hati.
2.Menepuk ketempat yang berdebu(suci) dengan kedua tangan.
3.Mengusap seluruh wajah termasuk janggut.
4.Mengusap dua tangan sampai ke pergelangan tangan.


2.      Shalat
  1. Untuk shalat fardhu, seorang yang sakit tetap diwajibkan untuk berdiri, selama mampu, meskipun harus dengan bersandar pada tembok atau bertumpu dengan tongkat
  2. Apabila tidak lagi mampu untuk berdiri, maka diperbolehkan untuk shalat dengan duduk, dengan tetap wajib untuk ruku’ dengan cara menunduk dan sujud diatas tanah sebagaimana biasa jika mampu. Dan apabila tidak mampu untuk sujud, maka sujudnya dilakukan dengan cara menunduk ( dengan posisi lebih rendah dari ruku’nya )
  3. Apabila tidak mampu untuk duduk, maka diperbolehkan untuk shalat dengan tidur miring diatas sisi kanan dengan menghadap kiblat.
  4. Apabila tidak bisa tidur dengan posisi miring, maka shalatnya dengan tidur terlentang, dengan kakinya diarah kiblat, dengan posisi kepalanya lebih diatas ( diberi bantal ), sehingga tetap bisa menghadap kearah kiblat
  5. Apabila tidak mampu ruku’ dan sujud dengan cara menunduk, maka diperbolehkan untuk ruku’ dan sujud dengan cara memberi isyarat dengan kepalanya, apabila juga tidak mampu , maka bisa ruku’ dan sujud dengan isyarat sesuai dengan kemampuan
  6. Orang yang sakit, tetap berkewajiban untuk shalat tepat pada waktunya, dan apabila ada kesulitan karena sakitnya, maka diperbolehkan untuk menjama’ antar dhuhur dengan ahsar, dan antara magrib dengan ‘isyak dengan jama’ taqdim atau ta’khir. Adapun untuk shalat shubuhnya tetap wajib untuk dilaksanakan diwaktunya
Catatan :
  • Apabila seseorang, baik karena sakit atau lainnya tertidur atau terlupa, sehingga tidak mengerjakan shalat diwaktunya, maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat ketika ia terbangun atau ketika ia ingat, meskipun ( bangunnya atau ingatnya ) pada waktu yang dilarang untuk shalat didalamnya
  • Tidak diperkenankan bagi seorang muslim untuk meninggalkan shalat dalam keadaan bagaimanapun ( selama masih sadar ), termasuk ketika ia sakit, bahkan semestinya seorang yang sedang sakit lebih harus bisa menjaga shalatnya dari pada saat sehatnya
  • Seseorang yang hilang kesadarannya, karena sakir atau karena pengaruh obat bius atau karena yang lainnya, sehingga meninggalkan beberapa shalat, maka ia wajib untuk mengganti shalat-shalatnya dalam satu waktu, yaitu ketika ia sadar
  • Apabila seseorang meninggalkan shalat karena kehilangan akalnya hingga wafat, meskipun badannya terlihat sehat, maka ia tidak berdosa dan tidak wajib bagi ahli warisnya untuk menggantikan shalatnya
Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi kita, sebagai usaha kita untuk terus mendekatkan diri kepada Allah dengan terus beribadah kepadanya. Kita harus selalu mengingat hakikat kita diciptakan dan hidup di dunia ini, yaitu untuk beribadah kepada-Nya.
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. [51:56]