Selasa, 25 Desember 2012
Teh dan Madu Bakalan Menggantikan Antibiotik
Fenomena resistensi kuman terhadap antibiotik yang kian mengkhawatirkan kembali disuarakan para pakar kesehatan. Resep pengobatan tradisional seperti teh dan madu dipersiapkan sebagai salah satu solusi alternatif dalam mengatasi kuman yang semakin kebal terhadap obat-obatan.
Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dan berulang-ulang merupakan penyebab terbesar suatu jenis bakteri menjadi resisten terhadap obat. Pakar kedokteran menyebut fenomena yang mengkhawatirkan ini dengan istilah “arms race”.
Ketidakmampuan suatu obat antiobiotik mengatasi bakteri kini menjadi momok setelah ditemukannya antibiotik pada tahun 1940-an. Kehadiran antibiotik sempat menjadi solusi yang efektif dalam mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Namun ketika bakteri sudah menjadi resisten terhadapnya, dibutuhkan alternatif lain yang dapat membuat pengobatan menjadi kembali efektif.
Prof. Les Baillie, dari Cardiff University Inggris menyatakan, bukan mustahil dunia akan kembali ke suatu masa dimana belum ditemukan antibiotik, sehingga pengobatan sejenis penyakit menjadi permasalahan besar.
Oleh karenanya, para ilmuwan kini sedang mengupayakan membuat suatu sulosi alternatif ketika bakteri sudah menjadi resisten terhadap antibiotik. Baillie saat ini mengetuai tim riset untuk mencari tahu apakah obat kuno seperti teh dan madu dapat menjadi cara berikutnya sebagai obat yang paling efektif mengobati penyakit.
Teh diketahui mengandung suatu senyawa yang dinamakan polifenol yang memiliki kemampuan membunuh mikroorganisme.
Tim peneliti yang dipimpin Baillie telah menemukan, teh mampu untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh Clostridium difficile, bakteri yang bertanggung jawab untuk setidaknya 2.000 orang tewas dan lebih dari 24.000 kasus infeksi tahun lalu.
Rhidian Morgan-Jones, seorang ahli bedah dari Cardiff, mengatakan bahwa ada kekhawatiran nyata tentang masa depan dunia kedokteran saat antibiotik tidak lagi dapat digunakan.
Prof. David Livermore, dari Badan Perlindungan Kesehatan Inggris, bulan lalu memberi peringatan, operasi besar dan penanganan kanker akan menjadi lebih berbahaya lagi. Penggunaan antibiotik kemungkinan hanya akan bisa dilakukan untuk 10 tahun ke depan.
Perkembangan dunia kedokteran modern seperti perawatan intensif dan transplantasi organ akan berada di bawah ancaman tanpa antiobiotik. Oleh karenanya, segera dibutuhkan pengganti antibiotik.
Sumber : Kompas
Jumat, 21 Desember 2012
Gambaran Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Penyakit Diare
ABSTRAK
Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Ibu Tentang Penyakit Diare Pada Balita Di Desa Lumpatan Kecamatan Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin Tahun 2010
(xvii + 54 halaman+ 5 tabel+ 1 skema + 6 lampiran)
Diare masih merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak-anak di berbagai negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Di Indonesia di laporkan terdapat 1,6 sampai 2 kejadian diare per tahun pada balita, sehinggan secara keseluruhan diperkirakan kejadian diare pada balita berkisar 40 juta setahun dengan kematian sebanyak 200.000-400.000 balita. Berdasarkan hasil rekapitulasi data DKP Sumsel jumlah penderita diare pada tahun 2007 berjumlah 48.000 penderita dan pada tahun 2008 terhitung per januari hingga 31 September 2008 penderita diare mencapai 143.822 jiwa. Sedangkan untuk wilayah Kabupaten Musi Banyuasin pada umumnya dan di wilayah kerja Puskesmas Lumpatan Kecamatan Sekayu khususnya jumlah penderita diare mencapai 1.335 jiwa dan 619 diantaranya adalah balita di sepanjang tahun 2009. Banyak faktor yang mempengaruhi tingginya angka tersebut, diantaranya adalah pengetahuan dan sikap ibu.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan sikap ibu tentang penyakit diare pada balita di Desa Lumpatan Kecamatan Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan meggunakan tehnik purposive sampling. Data yang digunakan adalah data primer dengan menggunakan kuesioner dan data sekunder yang diperoleh dari instansi kesehatan terkait. Responden yang diteliti adalah ibu-ibu yang memiliki balita yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Lumpatan Kecamatan Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin. Waktu pelaksanaan penelitian selama 6 minggu (12 April – 21 Mei 2010).
Hasil penelitian yang diperoleh bahwa sebanyak 45 orang (52,3 %) responden memiliki pengetahuan yang tinggi, sebanyak 34 orang (39,5%) responden memiliki pengetahuan sedang dan sebanyak 7 orang (8,1%) responden memiliki pengetahuan yang kurang, sedangkan responden yang sudah bersikap positif terhadap penyakit diare sebanyak 81 orang (94,2%) dan responden yang sudah bersikap negatif terhadap penyakit diare sebanyak 5 orang (5,8%).
Saran yang dapat diberikan setelah penelitian dilakukan adalah pemberian penyuluhan oleh petugas puskesmas baik secara individual atau kelompok melalui peran serta aktif masyarakat, dan perlu adanya penelitian lebih lanjut terhadap berbagai faktor lainnya yang mempengaruhi kejadian diare pada balita.
Daftar Pustaka : 23 (2000-2010)
Selengkapnya download di sini:
1. BAB I 2. BAB II 3. BAB III 4. BAB IV
Langganan:
Postingan (Atom)
